FESTIVAL ROWO BAYU TRADISI TABUR DAWET DAN KIRAB PUSAKA

Memperingati hari jadi Kabupaten Banyuwangi yang ke-246, Warga Desa Banyu, Keacamatan Songgon, Banyuwangi, gelar Tradisi Tabur Dawet dan Kirab Pusaka. Tradisi ini merupakan cara warga untuk melestarikan budaya dan mengenang sejarah kerajaan blambangan yang kini menjadi Kabupaten Banyuwangi.

 

Banyuwangi – Dengan mengarak 150 benda pusaka yang terdiri dari keris dan tombak keliling desa, sebagai pertanda kirab pusaka dalam serangkaian Festival Rowo Banyu 2017 dimulai. Iring – iringan pasukan kerajaan terlihat, dengan penampilan para pengawal kirab pusaka menggunakan busana kerajaan blambangan.

Sesampainya di Rowo Banyu, sesepuh adat memimpin doa untuk mendapatkan keberkahan dan keselamatan kepada tuhan yang maha esa. Selanjutnya dawet pun ditabur di Rowo Banyu hingga mengelilingi rawa yang dianggap sakral oleh masyarakat desa setempat.

 

“ Tabur dawet merupakan tradisi masyarakat yang sudah turun temurun dari ennek moyang. Sedangkan kirab pusaka merupakan cara masyarakat untuk mengingat sejarah. Bahwasannya di Desa
Banyu dulu ada perang maha dasyat antara kerajaan blambangan dengan penjajah belanda”, ujar Suparto selaku tokoh adat Desa Banyu.

Setidaknya kurang lebih sebanyak 60.000 korban meninggal akibat perang puputan banyu. Ratusan pusaka yang dikirap merupakan peninggalan nenek moyang untuk berperang mengusir penjajah.

Tak heran jika tradisi ini digelar selalu menjadi perhatian masyarakat banyuwangi maupun luar kota banyuwangi untuk melihat secara langsung.

Serangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan pemerintah setempat dan warga guna untuk memperingati hari jadi banyuwangi yang ke -246. (pr/in)






Comments are Closed