Bahasa Jawa Punah Bila Tidak di Selamatkan Lewat Karya Sastra

Karya sastra menjadi salah satu bukti kebudayaan yang bisa diwariskan hingga generasi penerus. Sastra juga penting untuk menyelamatkan bahasa Jawa yang kini sudah tergerus pemakaiannya oleh orang Jawa sekalipun. Seperti yang terungkap dalam Beranda Sastra #6 : Pesona Sastra Jawa pada Selasa, (18/4/2017).

“Orang yang ada di kota itu terkadang malu menggunakan bahasa Jawa. Takut dianggap katrok, kampungan. Padahal mereka lah yang harusnya menggunakannya dengan bangga untuk menyelamatkan bahasa daerah” ungkap Fitri Gunawan, penulis buku fiksi bahasa Jawa, Ngalari Woting Ati.

Pandangan yang sama terhadap bahasa Jawa juga dikemukakan oleh Dosen Prodi Jawa FIB Universitas Indonesia, Dr Ari Prasetiyo. Beliau berpendapat bahasa Jawa yang memiliki unsur unggah-ungguh atau kesopanan terhadap umur, juga menjadi kelemahan dalam berbahasa karena perbedaan presepsi antara pembicara dan penerima.

“Bahasa Jawa bisa digolongkan menjadi dua unsur, yaitu bahasa itu sendiri dan makna tersirat yang ada didalamnya. Mulai dari gerakan tubuh hingga perasaan yang disampaikan dalam setiap ucapan kalimat.” Ungkap Ari di Bentara Budaya Jakarta.

Melestarikan bahasa Jawa memiliki tantangan kompleks, karena banyak syarat yang harus diketahui untuk bisa menggunakannya dengan benar. Seperti kenal dengan lawan bicara, sadar dengan lingkungan dan mampu untuk mengendalikan ego, sehingga rasa dari pesan tersebut mampu diberikan dan diterima dengan baik.

“Bahasa Jawa yang sekarang sudah rusak. Menulis ‘kuwi’ sekarang sudah berubah jadi ‘kui’. Menulis ‘piye’, sekarang jadi ‘pie’. Kalau sudah punah, siapa lagi yang melestarikan? Karena bahasa adalah identitas budaya, makanya saya memberanikan diri membuat fiksi dengan bahasa Jawa”, tutup Fitri, nama penulis dari Koes Hartati.






Comments are Closed